Rabu, 20 Juli 2016

Tertidur Dalam Mimpi Panjang

Sejam yang lalu aku masih duduk, tak pernah tahu apa yang akan terjadi sekarang.
Aku masih duduk, dan masih di tempat semula tanpa beranjak.
Sesaat terlintas tak ada perbedaan berarti, namun kucoba sedikit memicingkan mata berputar putar hingga lelah, seakan ada sesuatu yang dicari.
Kini terasa benar semua tlah berubah, dari daun yang tadi bersamaku menari, angin bersiul, dan juga bangku yang mendengkur.
Dari langit tlah meneteskan rintik, harum melati ataupun kenanga tak pernah menembus lubang jiwa.
Hujan, masih tetap hujan- anyir- masih seperti ritual pembantaian cacing.
Perlahan wajah-Mu meraup jiwa, lalu hati tertidur dalam mimpi panjang dalam kisaran cedah wajah-Mu.

31 agustus 2010

Maut

Dalam Geletar suara, perlahan kudengar sayup suara sang Izroil dan dengan keAgung-Nya datang mengucap salam berbisik, "Maukah kau ikut aku?" Aku terdiam paku, seluruh otot dan syaraf menegang kaku, seluruh anasir mendesirkan takut malu.
Kutemui ibu, memeluk kecup kening juga jempol jari tangan yang merapuh sepuh, " Assalamu'alaikum bundaku, dan tanpa kata-kata selanjutnya"

September 2010

Selasa, 19 Juli 2016

Terasing

/1/
merih resam selaksa
sorot mata memudar,
: buyar!
tak ada seraup rupa tawa.

mengeruh ruh
gelagap 
gegap
gelap

tak ada yang seperti kelihatannya
halusinasi
elegi
ilusi

/2/
terasing rasa
pikir menjelma gurita
sebab kecil kandil.

: Pantang mengerdil!

tersisa ketakutan
tersalah pahami arti 
akan puisi yang sempat
Terpatri!

seperti intuisi pula ilusi
: Masih elegi

/3/
AlangAlang
Terlentang
Terbuang
Melayang
Hilang 

Terngiang
Membayang
Terhempas 

Tertusuk
Setajam
Seruncing
Terbunuh


Kalibeber, 01-09 Mei 2011

Rumpun Bambu

Dibawah rumpun bambu balakang rumah, aku terbiasa berkelakar sendiri. Sambil mereguk angin, asap-asap pagi, melahap lagu air sungai, merasakan tempa bias hangat mentari.

Aku lebih suka disana dimana jiwaku mampu mengerti, walau sedikit uraian tentang capung dan cacing ataupun seekor belalang yang kehilangan satu kaki tumpuannya. 

Mereka tak pernah mau makan padi atau singkok petani, mereka makan apa yang di berikan tuhan secara alami.

Aku muak kembali kedepan rumah, hanya bising! Sebab yang kusaksikan hanya manusia-manusia sibuk merajut kata, memoles rupa, memupuk sangka. 

Aku ingin tertawa bila sesekali harus kedepan rumah melihat tingkah beberapa kadal kecil yang berceramah di depan para singa

aku lebih suka berdiam, membiarkan lumpur sawah simbah
belepotan dikaki dan tubuhku

aku lebih gembira membiarkan matahari
menggosongkan wajahku dan berkarib dengan kesunyian rumpun bambu

sungguh ketika aku pulang kembali ke rumah
aku hanya ingin membiarkan keletihan sepanjang hari
menemani
mencumbui

bermesraan di ranjang penuh gairah
sehingga aku tak perlu lagi sibuk
dengan urusan dapur
atau urusan kasur orang 
karena aku tlah bersyahwat selalu dengan letihku

Kalibeber, 07-09-10