Sejam yang lalu aku masih duduk, tak pernah tahu apa yang akan terjadi sekarang.
Aku masih duduk, dan masih di tempat semula tanpa beranjak.
Sesaat terlintas tak ada perbedaan berarti, namun kucoba sedikit memicingkan mata berputar putar hingga lelah, seakan ada sesuatu yang dicari.
Kini terasa benar semua tlah berubah, dari daun yang tadi bersamaku menari, angin bersiul, dan juga bangku yang mendengkur.
Dari langit tlah meneteskan rintik, harum melati ataupun kenanga tak pernah menembus lubang jiwa.
Hujan, masih tetap hujan- anyir- masih seperti ritual pembantaian cacing.
Perlahan wajah-Mu meraup jiwa, lalu hati tertidur dalam mimpi panjang dalam kisaran cedah wajah-Mu.
31 agustus 2010