Selasa, 19 Juli 2016

Rumpun Bambu

Dibawah rumpun bambu balakang rumah, aku terbiasa berkelakar sendiri. Sambil mereguk angin, asap-asap pagi, melahap lagu air sungai, merasakan tempa bias hangat mentari.

Aku lebih suka disana dimana jiwaku mampu mengerti, walau sedikit uraian tentang capung dan cacing ataupun seekor belalang yang kehilangan satu kaki tumpuannya. 

Mereka tak pernah mau makan padi atau singkok petani, mereka makan apa yang di berikan tuhan secara alami.

Aku muak kembali kedepan rumah, hanya bising! Sebab yang kusaksikan hanya manusia-manusia sibuk merajut kata, memoles rupa, memupuk sangka. 

Aku ingin tertawa bila sesekali harus kedepan rumah melihat tingkah beberapa kadal kecil yang berceramah di depan para singa

aku lebih suka berdiam, membiarkan lumpur sawah simbah
belepotan dikaki dan tubuhku

aku lebih gembira membiarkan matahari
menggosongkan wajahku dan berkarib dengan kesunyian rumpun bambu

sungguh ketika aku pulang kembali ke rumah
aku hanya ingin membiarkan keletihan sepanjang hari
menemani
mencumbui

bermesraan di ranjang penuh gairah
sehingga aku tak perlu lagi sibuk
dengan urusan dapur
atau urusan kasur orang 
karena aku tlah bersyahwat selalu dengan letihku

Kalibeber, 07-09-10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar